Selamatkan Anak Didik dengan Pendidikan Tauhid

  Selasa, 14 Juni 2016      Super Admin

Rounded Image
 
Oleh: Udin Juhrodin, S.Pd., M.M.Pd.

Pendidikan Islam memiliki pandangan sendiri yang secara eklusif memberikan, mengarahkan dan membina para pendidik dan peserta didiknya untuk bersama-sama mencapai tujuan inti, yaitu tauhid. Inti pendidikan ini adalah keniscayaan yang tidak boleh ditinggalkan dalam setiap sendi pendidikan. Tauhid, adalah jiwa dan ruh sebenarnya dari pendidikan Islam. Dengan demikian, dimana tauhid ditanamkan, disirami dan dipelihara, maka pendidikan akanpun akan terpelihara.

Dunia pendidikan bukan sekedar bagaimana menciptakan anak didik yang cerdas dan berbudi. Ada landasan yang harus ditanamkan secara awal dari sebuah pendidikan yaitu keyakinan terhadap Tuhan. Jika dasar ini tidak ada, maka keduanya menjadi tidak bermakna. Apalah artinya kecerdasan tanpa keimanan, banyak yang otaknya hebat akan tetapi tidak memiliki iman berujung dengan keputusasaan atas apa yang diraih oleh otaknya. Apa pulalah artinya berbudi jika tidak didasarkan atas keimanan, karena akhirnya akan berujung kepada penciptaan perilaku semu dan kamuflase.

Perbedaan dari keduanya adalah, bahwa kecerdasan dan budi pekerti lahir dari proses pemahaman. Sedangkan tauhid telah ada sebelum manusia memahami apa itu mengerti, memahami dan melakukan kecerdasan dan budi.

Kapan Manusia Belajar Tauhid?
Manusia telah mendapatkan pengajaran tauhid sejak dirinya masih berada dalam alam arwah sebelum dia menempati tubuh secara fisik di dalam rahim ibunya. Ingatlah, ketika Tuhan bertanya kepada ruh manusia: “bukankah aku ini Tuhanmu?” maka ruh itu menjawab: “betul, kami bersaksi (bahwa Engkau adalah Tuhan kami)”. Dengan demikian, tauhid adalah pendidikan pertama dan utama yang dicontohkan oleh Allah.

Perjalanan hidup manusia setelah bersinggungan dengan dunia, kemudian sedikit sedikit telah merubah paradigma itu. Manusia terpengaruhi oleh budaya sehingga lahirlah budi, manusia bersentuhan dengan gejala alam sehingga lahirlah ilmu pengetahuan dan pemikiran. Sejalan dengan perkembangan fisik, logika dan kemampuan melihat, mendengar, dan memikirkan kemudian manusia berubah menjadi satu-satunya makhluk Tuhan yang mampu mempelajari, memahami dan menguasai apa yang dilihatnya.

Namun, kadang manusia lupa bahwa semua potensi itu dimiliki karena Tuhan sudah menyatakan lulus pada pengajaran pertama tentang pengakuan atas Allah sebagai Tuhannya. Jika pada waktu itu manusia menolak mengakui Allah sebagai Tuhannya, maka tak akan pernah ia dimasukkan ke dalam jasad di dalam rahim ibunya dan itulah seringkali tidak disadari.

Bagaimana Merealisasikan Ajaran Tauhidullah?
Dalam kehidupan kita diperkenalkan dengan pengetahuan. Dalam kehidupan juga, manusia mempelajari dan memahami berbagai perilaku dan budi pekerti. Dari kedua interaksi ini, maka lahirlah manusia cerdas yang berbudaya (al-hayawan nathiq).

Adalah hal yang sangat menentukan kenapa manusia berkembang melesat melebihi makhluk-makhluk Tuhan lainnya karena adalah potensi ketiga, yaitu nafsu. Tuhan menciptakan nafsu sebagai penghias fisik manusia. Setiap fisik manusia akan memiliki potensi nafsu ini. Manusia seting marah, mengeluh, rindu, bingung, hasrat dan keinginan, serta perasaan lainnya. Darinyalah lahirlah motivasi dan dorongan agar manusia mempu menempuh jalan hidupnya.

Walhasil, manusia diberikan tiga potensi besar: akal, hati dan nafsu. Ketiganya bekerja dengan bidang masing-masing dan saling bersinggungan satu sama lainnya. Itulah yang menyebabkan manusia mendapatkan posisi yang mulia dibandingkan makhluk lainnya di dunia ini. Ketiganya berjalan beriringan, saling tarik menarik dan saling mempengaruhi. Dari pengaruh itu lahirnya berbagai tipe manusia:
  1. Manusia yang dominan akalnya mengalahkan hati dan nafsunya. Tipe ini menjadikannya sebagai hamba pengetahuan. Apapaun yang tidak didasarkan atas penerimaan logika adalah salah dan kemustahilan.
  2. Manusia yang hatinya dominan mengalahkan akal dan nafsunya. Tipe orang ini memandang bahwa perasaan adalah adalah segalanya. Meskipun logis, kalau itu tidak sejalan dengan perasaan maka akan salah.
  3. Manusia yang nafsunya mengalahkan akal dan hatinya. Tipe ini adalah tipe manusia paling rendah, dimana ia memandang bahwa hidup ini adalah untuk memuaskan nafsunya belaka.
  4. Manusia yang akal dan nafsunya mengalahkan hatinya. Tipe ini adalah tipe manusia cerdas yang dengan pengetahuannya akan berusaha untuk memuaskan nafsunya.
  5. Manusia yang hati dan nafsunya mengalahkan logika. Tipe ini manusia ini adalah tipe akan bahwa perasaan adalah segalanya.
  6. Manusia yang logika dan hatinya mengalahkan nafsunya. Tipe ini adalah tipe manusia ideal, yang dalam bahasa al-qur’an dijanjikan dengan surga.
Satu hal yang tak dapat dipungkiri, bahwa nafsu hanya akan kalah dan mampu jinak jika manusia mampu menggabungkan hati dan logikanya (dzikir dan fikir) secara sejalan untuk menekan pergerakkan nafsunya. Untuk merealisasikan keduanya, maka Allah melanjutkan pelajaran/pendidikannya kepada manusia berupa langkah-langkah real:

Syukur
Pengajaran ini mengajak manusia agar mampu menekan nafsu sombong manusia, dan menyadari bahwa segala sesuatu yang dimiliki manusia pada hakikatnya adalah milik Allah. Pengajaran tentang syukur mengarahkan manusia agar mampu menyadari perannya sebagai manusia yang bebas dan hamba Tuhan. Ia boleh mendapatkan kelebihan, kemenangan, kehebatan dan kesuksesan, akan tetapi harus sadar bahwa semua itu tidaklah datang begitu saja tanpa campur tangan Tuhan atas apa yang dialaminya.

Sabar
Pengajaran ini mengarahkan manusia untuk mampu mengendalikan nafsu kekesalan, kekecewaan, marah, bingung dan rasa memberontak. Pengajaran tentang sabar menegaskan kepada manusia bahwa logika tidak selamanya berjalan sesuai apa yang diinginkannya. Dalam kehidupan ini seringkali permainan logika menghasilkan kenyataan yang berlawanan. Dalam al-Qur’an, biasanya Tuhan sedang menguji sejauh mana kemampuan hati seseorang menghadapi keabsurdan logika. Ketika logika gagal berperan, biasanya nafsu memuncak dan menariknya. Untuk menyelamatkan dan mmebersihkannya, maka hatilah yang harus berperan menjadi penengah.

Dalam kenyataannya, banyak orang yang mampu bersyukur tapi tidak mampu untuk bersabar. Kesabaran berugas menyeleksi sikap syukur murni dan syukur yang kamuflase. Ingatlah ketika Ayub, Nabi yang senantiasa bersyukur karena mendapatkan banyak kesuksesan, maka Allah mencobanya. Karena kesabarannyalah ia mampu melewati semua ujiannya. Maka sikap sabar inilah yang menjadikannya ia sebagai hamba Allah yang paling sabar.

Jika dengan bersyukur Allah akan menambahkan nikmatnya, maka dengan bersabar Allah akan mengembalikan kejayaannya dengan tanpa hitungan (tidak lagi bicara soal bertambah dan berkurang).

Ikhlas
Landasan paling utama dari semua perilaku manusia adalah kemurniannya. Untuk menjadi seorang hamba yang bersyukur membutuhkan dasar, demikian pula untuk menjadi hamba yang sabar membutuhkan pilar tempat bertaut, itulah ikhlas.

Ikhlas menjadikan manusia bebas dari segala ketergantungan atas apapun, kecuali karena Allah. Ikhlas juga menjadikan manusia mampu mencapai derajat tertinggi yang mampu selamat dari berbagai kebinasaan. Ikhlas adalah senjata yang paling hebat dari hamba Tuhan dan rahasia Tuhan yang paling mujarab. Ikhlas hati manusia teguh dan kokoh.

Ketiganya adalah inti dari realisasi pendidikan tauhid yang diajarkan Allah kepada manusia. Adapun perilaku lainnya adalah kombinasi dari ketiganya berdasarkan porsi-porsi yang berbeda.

Kurikulum Pendidikan Tauhid Seperti Apakah?
Kurikulum pendidikan tauhid bersifat integratif dalam setiap aspek pendidikan dan pengajaran. Karena tauhid harus menjadi dasar dari segala bentuk dan model pengajaran juga berbagai jenis pendidikan. Pendidikan tauhid juga harus menjadi core dari semua materi yang disampaikan dan diajarkan, sehingga mampu memberikan warna yang tegas bahwa apa yang didapat oleh manusia, dikembangkan, diinovasi, diciptakan kembali pada hakikatnya adalah penggambaran sikap tauhidullah. Al-Quran menggambarkan sikap ini dengan sebutan “hanif”.

Kurikulum “hanif” adalah kurikulum yang abadi sepanjang sejarah umat manusia yang lulus uji dan digunakan oleh manusia-manusia pilihan Tuhan dari kalangan para Nabi dan Rasul-Nya. Dengan kurikulum inilah, manusia mampu terbebas dari berbagai degradasi dan kehancuran. Kurikulum “hanif” adalah kurikulum super yang telah dirancang oleh Tuhan bagi kelestarian dan keselamatan umat manusia. Dan kehancuran umat manusia terdahulu dikarenakan mereka lebih memilih untuk melepaskan diri dari kurikulum ini dengan memilih dan menciptakan kurikulum sendiri yang didasarkan atas kemampuan logika dan fikir manusia.

Selagi umat manusia mampu mempertahankan core kurikulum ini dalam kurikulum versi manusia, maka akan mampu bertahan dengan zaman. Tetapi sebaliknya, ketika manusia telah berani melepaskannya, maka tidak akan ada kurikulum pendidikan apapun yang mampu bertahan dalam waktu yang lama, seperti hancurnya umat-umat manusia yang telah musnah karena kezaliman dirinya sendiri akibat meninggalkan kurikulum yang telah dirancang Tuhan.

Refleksi
Setiap saat kita sering mendengar berbagai kasus yang membuat kita menahan nafas, mengusap dada, dan bertanya-tanya. Apakah yang salah dengan dunia pendidikan kita? Seringkali pula kita disuguhi berita yang mengekspos orang-orang cerdas, berbudi, baik terjebak dalam kasus-kasus bernoda dan nista. Apa yang salah dengan kecerdasan mereka?
Itu semua karena sistem pendidikan kita lebih mementingkan aspek logika dan nafsu, dibanding membekali hati peserta didiknya dengan sikap “hanif” dan bertauhid. Kita senang belajar tentang manusia masa lalu yang telah hancur, tetapi kita enggan mengatakan bahwa kehancuran mereka karena mereka berani meninggalkan tatanan yang telah digariskan oleh Allah. Bukankah apa yang terjadi sekarang juga, terjadi persis pada masa umat terdahulu?

Lalu kenapa kita masih mau berkata bahwa “kurikulum” hanif, pendidikan tauhid sudah tidak trend!!