Idul Fitri: Membentuk Manusia Paripurna

  Jum'at, 23 Juni 2017      Super Admin

Rounded Image
 
Oleh: Drs. H. Hasjim Rochimi, M.Pd.

Idul fitri sering diartikan kembali kepada fitrah, kembali kepada kesucian. Pada hari itulah umat Islam merayakan kemenangan melawan hawa nafsu. Selama satu bulan penuh umat Islam berusaha tidak hanya melawan nafsu badaniah seperti makan, minum dan kebutuhan badan lainnya, tetapi terutama berusaha untuk menghindari segala macam perbuatan yang bisa merugikan diri sendiri maupun orang lain. Sehingga begitu keluar dari bulan Ramadhan, umat Islam tak ubahnya seperti dilahirkan kembali, nabi mengilustrasikan kayaumin waladathu ummuhu, seperti bayi yang baru lahir, kembali ke fitrah, kesucian.

Namun yang perlu menjadi pertanyaan adalah bagaimana kita menyikapi datangnya Idul Fitri. Sudah benarkah cara kita selama ini dalam memaknai, menyambut dan merayakan Idul Fitri? Ini yang harus selalu menjadi bahan pemikiran dan muhasabah kita setiap saat, khususnya setiap kali kita berjumpa dengan Idul Fitri.

Idul fitri yang juga biasa disebut hari lebaran sering dipelesetkan menjadi hari bubaran dengan arti: bubar puasanya, bubar pula tadarusnya, bubar shodaqohnya dan seterusnya. Artinya selesai Ramadhan-nya berarti selesai pula ketaatannya. Sementara itu diantara masyarakat kita ada yang memaknai dan memahami hari raya lebaran ini hampir hanya sebagai hari yang identik dengan segala yang serba baru; baju baru, celana baru, jilbab baru, dan lain-lain yang serba baru. Bahkan ada juga sebagian masyarakat kita yang tidak memahami hari raya Idul Fitri melainkan sekadar sebagai ajang pesta kembang api dan ‘perang’ petasan.

Jika demikian, benarlah apa yang pernah dituturkan oleh Nabi kita, Betapa banyak orang puasa, tetapi tidak mendapatkan hikmah sedikitpun dari puasanya, kecuali rasa lapar dan dahaga saja. Dalam konteks inilah kita perlu melakukan evaluasi terhadap rangkaian ibadah yang telah kita lakukan selama ramadhan serta mencari sebab kegagalan puasa yang kita laksanakan.

Sebetulnya jika benar-benar dioptimalkan, maka Ramadhan dengan segala amaliah istimewanya adalah salah satu momentum terbaik bagi peleburan dosa dan penghapusan noda yang mengotori hati dan jiwa kita serta membebani diri kita selama ini. Sebagaimana sabda Nabi: “Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap pahala (dan ridha Allah), maka niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR. Muttafaq ‘alaih). Dalam beberapa hadits juga dikatakan: “…bersih/suci bagaikan bayi yang baru dilahirkan”. Dengan Rahman dan Rahim-Nya, Allah mengampuni semua dosa hamba-Nya. Yang tersisa tinggallah dosa sesama manusia. Untuk menghapus dosa ini tentu tidak cukup dengan memohon ampun kepada Allah SWT. Allah memerintahkan kita untuk meminta maaf dan memberi maaf kepada sesama manusia. Karena dalam menjalani hidup, kita tentunya teramat sering menuruti hawa nafsu dan menyakiti orang lain demi untuk mencapai ambisi-ambisi ekonomi, politik dan hal-hal keduniawian lainnya.

Banyak sekali ayat Al-Qur’an yang memerintahkan kita untuk saling memaafkan. Saling memaafkan inipun merupakan salah satu ciri orang-orang yang bertaqwa sebagaimana juga yang dicita-citakan oleh puasa. Allah SWT berfirman: “Dan memberi maaf itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Baqarah: 237). Dalam ayat yang lain Allah SWT juga berfirman: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (QS. Ali Imran: 132-133).

Terlebih bangsa kita, beberapa waktu lalu baru saja melaksakan pesta demokrasi, pemilihan kepala daerah secara serentak. Tentu saja banyak terjadi gesekan-gesekan antar kontestan pemilu dan masyarakat secara umum. Maka hari raya ‘Idul Fitri menjadi momen yang tepat untuk saling memaafkan antar komponen seluruh bangsa. Memang, Rasulullah Saw. mengajarkan kita untuk saling memaafkan sesegera mungkin setelah kita berbuat kesalahan. Tetapi terkadang hati dan mental kita belum siap untuk melakukannya. Meminta maaf dan memaafkan bukanlah perkara mudah. Oleh sebab itu, setelah menjalani pelatihan mengendalikan nafsu, kita diharapkan memiliki mental yang cukup kuat untuk saling memaafkan di Hari Raya ‘Idul Fitri.

Kewajiban kita sekarang, di hari fitri ini, adalah menjaga keistiqamahan dengan melanjutkan amaliah ramadhan yang telah kita lakukan. Kita telah melakukan penempaan diri dengan berpuasa selama satu bulan penuh. Menahan nafsu dan gejolak jiwa, men-dawam-kan al-Qur’an bagi penelusuran maknanya guna menemukan titah Allah, bermunajat dan shalat di malam hari, sedekah, menyantuni anak yatim, berwasiat tentang kebenaran (al-haq) dan kesabaran (al-shabr), saling maaf-memaafkan dan amal shaleh lain sebagai bukti taqwa kita. Karena keberhasilan riyadhoh amaliyah bulan ramadhan ditentukan keistiqamahan kita pasca Ramadhan pada hari-hari kehidupan kita selanjutnya. Sungguh bijak seorang penyair Arab yang berkata: Laisa al-'iidu man labisa al-jadid walakin al-'iid man tho'atuhu yaziid. Hari Raya bukanlah ditandai dengan pakaian baru, tetapi hakikat hari raya adalah siapa yang ketaatannya bertambah maju.

Maka mari kita jaga dan pertahankan keistiqomahan kita sebagai bukti taqwa dan sekaligus wujud syukur atas nikmat yang telah kita raih melalui seluruh amaliah Ramadhan yang baru saja berlalu. Karena puasa bukanlah sekedar menunaikan rukun formal, tetapi dalam konteks yang lebih luas, puasa merupakan upaya pengendalian diri dari seluruh kecenderungan sifat dan perilaku yang negatif untuk mewujudkan insan muttaqin, sosok manusia paripurna.