Agama Kunci Kebaikan Manusia

  Kamis, 24 Agustus 2017      Admin

Rounded Image
 Oleh: Udin Juhrodin

Bicara manusia, Tuhan telah memilih dan menentukan orang-orang yang mendapatkan gelar dengan kualitas terbaik atau manusia pilihan. Mereka adalah orang-orang dengan kualitas yang sangat baik, baik secara lahiriyah maupun bathiniyahnya. Diantara mereka adalah manusia yang diangkat menjadi Nabi, Rasul, auliya, ulama dan asatid. Mereka adalah gambaran dari pribadi yang digambarkan oleh sebagai orang yang memahami agama secara paripurna.

Akhir-akhir ini kita banyak disuguhi berita tentang aib yang mencedrai para tokoh yang dikenal sebagai para ustad. Celaan dan cercaan pun berdatangan, meski di sisi lain ada juga yang membela. Pantaskah seorang ustadz yang ngarti agama berbuat seperti demikian? Demikianlah pernyataan yang sering keluar dari mulut orang-orang.

Gambaran Manusia Terbaik

Dalam sebuah hadis yang sangat terkenal, Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang Allah kehendaki baik, maka akan dipahamkan dalam agama".

Hadis di atas menegaskan bahwa mampu memahami agama adalah peran Allah. Sebuah kekuataan yang hanya dimiliki oleh Allah semata. Dengan demikian, manusia manapun tidak akan pernah mendapatkan pemahaman yang paripurna tentang agama, kecuali atas kehendak Allah SWT. Hadis tersebut juga menegaskan bahwa orang yang dikehendaki sebagai orang mampu memahami agama secara paripurna adalah mereka yang akan mendapatkan gelar manusia terbaik. Dan semua itu adalah didasarkan atas kehendak Allah, Allahlah yang memberikan gelar ulama, kyai, ustad dan sebagainya sebagai gelar kemuliaan, bukan karena julukan yang diberikan oleh masyarakat tertentu. Manusia yang dikehendaki menjadi baik menurut Allah, kemudian akan dianugerahkan pemahaman yang sempurna dalam bidang agama.

Secara umum agama mencakup kepada tiga aspek pokok dan utama, yaitu: Pertama, Aspek Keimanan. Aspek ini merupakan dasar asasi dalam ajaran agama. Keimanan merupakan elemen yang sangat penting dan menjadi penentu utama kebaikan dan kebenaran beragama. Agama tanpa keimanan adalah bohong belaka. Aktivitas agama, atau semua aktivitas yang mengatasnamakan agama tanpa keimanan hasilnya adalah nihil.

Islam mengajarkan bahwa seseorang akan diangkat dari siksa api neraka, jika di dalamnya terdapat keimanan kepada Allah, meski hanya sebesar zarrah. Artinya, keimanan adalah penentu keselamatan seseorang di kehidupan yang akan datang.

Dalam hadis lain dikatakan bahwa "barangsiapa akhir ucapannya (ketika sakaratul maut) adalah kalimat "lailaha illallah", maka ia akan masuk surga". Sementara dalam hadis lain dijelaskan bahwa orangtua memiliki kewajiban kepada anaknya untuk mengajarkan kalimat "tauhid", yaitu kalimat "la ilaha illallah". Demikian pula, ketika kita mendengar berita kematian yang terbaik diucapkan adalah penekanan terhadap keimanan dengan beristirja', yaitu ucapan inna lillahi wa inna ilaihi rajiun (kita milik Allah dan hanya kepada-Nya kita akan kembali). Inti dari aspek keimanan adalah kepercayaan bahwa Tuhan ada, dan senantiasa mengetahui apapun yang kita lakukan. Semua datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah.

Kedua, Aspek Ibadah. Aspek ini adalah perwujudan nyata dari keimanan dalam bentuk perilaku, perbuatan, kegiatan dan aktivitas menyembah Tuhan dengan penuh keikhlasan. Dalam bahasa agama sering disebut ritual keagamaan. Aktivitas keagamaan ini mencakup perbuatan-perbuatan dengan kategori: wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram.

Ibadah merupakan ciri khas yang membedakan antara orang yang beragama. Masing-masing agama memiliki ritual dan cara beribadah yang berbeda, misalnya bagi umat Islam adalah kewajiban shalat lima waktu, puasa ramadhan, zakat, dan naik hati.

Jika keimanan merupakan aktivitas hati, maka ritual peribadatan merupakan aktivitas lahiriyah lisan dan perbuatan. Namun demikian, ritual tidaklah memiliki nilai apapun jika tidak diiringi dengan aktivitas hati, maka dalam setiap peribadatan membutuhkan dasar keimanan yang terhujam kuat, itulah yang disebut dengan ikhlas. Ibadah yang ikhlas adalah ibadah yang disandarkan atas dasar keimanan kepada Tuhan, tidak digantungkan kepada makhluk lainnya.

Ketiga, Aspek Akhlak. Aspek akhlak merupakan penyempurna dalam rangka menjaga keindahan beriman dan beribadah. Aspek ini biasanya berupaka aktivitas lahiriyah dan bathiniyah yang berupa aktivitas memperbanyak perbuatan positif dan menghindarkan dari aktivitas negatif. Aspek akhlak merupakan aktivitas hati yang mendukung dan memperkuat keimanan, misalnya husnu zhan, istiqamah, zuhud, syukur, tawadhu' dan sebagainya. Sedangkan dalam mendukung aktivitas peribadatan diantaranya adalah khusu', khudhu', dan sebagainya.

Secara umum ada berbagai akhlak: akhlak terhadap Allah, akhlak terhadap sesama manusia, akhlak terhadap lingkungan. Ketiganya haruslah berjalan beriringan dan berbarengan, agar memiliki nilai. Dan nilai inilah yang disebut dengan nama "khair" dalam pandangan Allah dan agama merupakan agama yang kaffah (paripurna). Keimanan seseorang haruslah mampu mengakar pada setiap kegiatan ritual keagamaan dan perilaku (akhlak), sehingga ibadah dan akhlaknya memiliki dasar "lillah".

Demikianlah gambaran manusia paripurna yang dikehendaki Allah sebagai orang yang mendapatkan kebaikan, yaitu mereka yang mampu menjalankan semua sendi-sendi agama secara berbarengan. Dengan demikian, tidak akan ditemukan karakteristik palsu: "shalatnya rajin, hajinya beberapa kali, rajin sadaqah, tetapi suka menipu, korupsi dan sebagainya.

Agama Merupakan Hidayah

Pemahaman paripurna terhadap agama sebagaimana dijelaskan dalam hadis di atas, adalah atas dasar kehendak Allah. Hal tersebut karena agama merupakah salah satu hidayah Allah, dan hidayah Allah hanya akan diberikan kepada mereka yang dikehendaki-Nya. Itulah mengapa, meskipun kita selalu menjalankan ibadah wajib dan sunnah serta berperilaku baik harus tetap memohon hidayah kepada-Nya.

Faktanya, seringkali orang tidak pernah lalai dalam menunaikan kewajiban, dan senantiasa berbudi pekerti baik, tatapi kemudian dia kalah ketika bertempur dengan dunia. Banyak mereka yang melakukan korupsi adalah orang-orang yang shalatnya rajin, ibadah hajinya beberapa kali, rajin membantu anak yatim.

Pertanyaannya, kenapa hal tersebut terjadi? Jawabnya karena Islamnya belum paripurna. Dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa seseorang muslim yang mencuri atau berzina, maka imannya hilang dari dalam hatinya. Jadi, intinya keimanan. Inilah yang seringkali tidak terjaga. Orang bisa saja rajin shalat karena ada yang mengingatkan, tahajud karena ada alarm, tetapi keadaan hati siapa yang dapat menjaga. Karenanya, Allah menggariskan sebuah do'a di dalam al-Qur'an yang artinya: "Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami setelah Engkau memberikan memberikan petunjuk kepada kami, dan berikanlah kami kasih sayang dari sisi-Mu".