Radikalisme dan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin

  Sabtu, 08 Juli 2017      Admin

Rounded Image
 
Oleh: Enden Haetami

Radikalisme yang juga sering diidentikkan dengan terorisme sudah menjadi “musuh” bersama. Isu radikalisme sebagai fenomena historis-sosiologis sebenarnya bukan isu baru, namun aksi peledakan bom yang terjadi dewasa ini seakan mengantarkan fenomena tersebut sebagai "musuh global". Spekulasi yang berkembang sampai hari ini, secara tendensius “menuduh” bahwa terorisme berpangkal dari fundamentalisme dan radikalisme agama, terutama Islam. Sehingga Islam sering dijadikan “kambing hitam” dalam berbagai aksi teror yang terjadi. Padahal terorisme tak hanya terjadi di dunia Islam, gerakan terorisme global juga ada di antara kaum fundamentalis agama-agama lain, termasuk Yahudi dan Kristen.

Sebenarnya motif radikalisme dan terorisme tidaklah bersumber dari aspek yang tunggal. Radikalisme dan terorisme merupakan patologi sosial-keagamaan yang demikian complicated. Faktor yang melatarbelakangi kemunculannya bisa berbagai macam: dari masalah politik, ekonomi, rasa keadilan yang tidak ada, hingga berkembangnya penyakit sosial di masyarakat. Oleh karenanya, fenomena ini mesti dikaji melalui berbagai pendekatan yang komprehensif secara integral. Selain itu, pendekatannya pun harus bersifat sederhana supaya bisa dipahami oleh banyak orang secara lebih luas.

Bagi penulis, salah satu hal fundamental yang harus diperhatikan adalah corak pemahaman mereka terhadap teks-teks agama. Kita meyakini bahwa Islam adalah agama damai, sehingga terorisme merupakan perilaku orang sesat yang secara skripturalis-ideologis dalam memahami agama terutama dalam konteks jihad. Pelaku teror mengalami distorsi dalam memahami makna jihad. Jihad selalu didekatkan dengan perang, jihad sama dengan tindakan kekerasan, jihad identik dengan usaha merusak tanpa pandang bulu. Anggapan ini memang tidak sepenuhnya salah, akan tetapi memaknai jihad dengan aksi teror adalah pemahaman jihad dalam konteks yang tidak tepat. Jihad seharusnya dipahami sebagai upaya mengerahkan pikiran dan energi untuk membangun kehidupan yang damai sesuai ajaran Islam.

Oleh karena itu, ketika watak dasar ajaran Islam diusik oleh sekelompok sangat kecil orang yang memiliki pemahaman radikal dengan melakukan tindak kekerasan dan teror secara tidak bertanggung jawab, sepatutnya kita prihatin. Sebab, tindakan itu bertentangan dengan prinsip dasar ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin serta memberikan dampak yang buruk bagi umat Islam lainnya.

Berdasarkan watak ajaran Islam tersebut, maka seyogyanya kita tidak saja harus memiliki dasar pijakan yang kokoh, akidah islamiyah yang kuat dan komitmen keagamaan yang mantap, tetapi juga luwes dalam pergaulan, menghargai sesama dan menyadari kebhinekaan bangsa dalam lingkup Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berasaskan Pancasila sebagai hasil ijma’ dari the founding father bangsa kita.

Menurut hemat penulis, mengoptimalkan peran ulama untuk mendakwahkan nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil alamin, damai dan meluruskan pemahaman agama yang benar menjadi sangat penting. Dalam konteks ini, peran ulama begitu sentral karena merekalah yang mempunyai "otoritas" dan akses untuk mengajarkan nilai-nilai keagamaan kepada umat. Lebih-lebih secara sosiologis, masyarakat muslim Indo­nesia yang sebagian besar masih paternalistik dan mekanistik, memungkinkan ulama menjadi salah satu tumpuan sekaligus garda terdepan untuk menyebarkan doktrin Islam yang penuh kedamaian.

Usaha lain yang bisa dilakukan ulama adalah memetakan teks-teks keagamaan yang telah diselewengkan kemudian dijadikan justifikasi atas tindak terorisme dan radikalisme. Kemudian menginterpretasikan teks-teks tersebut secara benar, toleran dan moderat. Di sinilah peran ulama sangat dibutuhkan, yakni untuk menghambat arus terorisme dan radikalisme agar tak terlalu deras mengalir.

Tawaran solusi ini boleh jadi bukan sesuatu yang baru, tapi sudah menjadi bagian program yang telah dan sedang dilakukan oleh beberapa pihak. Namun demikian, hal terpenting dari upaya untuk memutus mata rantai radikalisme dan terorisme adalah dengan memperkuat kesadaran kolektif baik di level struktural maupun masyarakat untuk menjadikan terorisme sebagai musuh kolektif. Dan karena motif dan penyebabnya bukan hanya dari faktor tunggal, maka penyelesaiannya tidak cukup dengan hanya mengandalkan pendekatan keamanan (security approach) dan hukum (law approach) semata. Pendekatan ini perlu dikomplementasikan dengan dimensi kemanusiaan secara lebih luas. Dengan demikian, kita sangat berharap gerakan terorisme dapat diatasi secara tegas dan komprehensif.