Santri: Aktor Pembangunan Bangsa

  Minggu, 22 Oktober 2017      Admin

Rounded Image
 
Oleh: Deding Ishak

Sejarah Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran dan perjuangan pondok pesantren, kyai dan santrinya. Sejak masa awal kedatangan Islam, terutama pada masa walisongo hingga masa penjajahan Belanda, masa kemerdekan hingga kini, pondok persantren telah menyumbang berjuta jasa yang tak ternilai harganya bagi bangsa Indonesia dalam berbagai sektor pembangunan.

Sejarah mencatat, walisongo sebagai generasi awal santri pondok pesantren memiliki peran yang sangat besar dalam penyebaran agama Islam. Pada masa penjajahan, di Sumatera ada Tuanku Imam Bonjol; di Jawa ada nama Pangeran Diponegoro; di Aceh ada Teuku Umar, Cut Nyak Dien, Cut Nyak Muthia, Panglima Polim, Teuku Cik Di Tiro, dan kawan-kawan yang merupakan didikan dayah (pondok pesantren); di Makasar ada Syeh Yusuf. Bahkan, yang paling akhir kita mengenal KH. Zaenal Mustofa dari Tasikmalaya dengan santrinya memberontak terhadap penjajah Jepang, sehingga banyak diantara mereka yang gugur di medan perang sebagai syuhada.

Pada masa kebangkitan, kurun waktu tahun 1900-an, muncul pula nama-nama besar seperti HOS. Cokroaminoto (pendiri Sarekat Islam), KH. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), K.H. Hasyim Asyari (pendiri Nahdhatul Ulama), dan lain sebagainya. Pada masa kemerdekaan, muncul nama-nama seperti KH. Wahab Hasbullah, M. Natsir, KH. Wahid Hasyim, Buya Hamka, KH. Saifuddin Zuhri dan masih banyak lagi.

Dari catatan sejarah tersebut, bisa dikatakan bahwa kaum santri merupakan representasi bangsa dari kalangan pesantren yang sangat berjasa membawa bangsa ini menegakkan kemerdekaan. Bahkan dalam mempertahankan kemerdekaan, KH. Hasyim Asy’ari, pendiri NU, pada tanggal 22 oktober 1945 memaklumatkan fatwa “Resolusi Jihad” sehingga menginspirasi perlawanan yang dipimpin oleh laskar kiai dan santri melawan Pasukan Sekutu (NICA) pada tanggal 10 November 1945. Resolusi Jihad dianggap sebagai seruan penting yang memungkinkan Indonesia tetap bertahan dan berdaulat sebagai negara dan bangsa.

Santri dan Pembangunan Bangsa
Istilah santri bisa ditemukan dalam bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji, sedang C. C. Berg berpendapat bahwa istilah tersebut berasal dari istilah shastri, yang dalam bahasa India berarti orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu atau seorang sarjana ahli kitab suci agama Hindu. Terkadang juga dianggap sebagai gabungan kata saint (manusia baik) dengan suku kata tra (suka menolong). Dari Kamus Bahasa Indonesia, kata ini mengandung beberapa pengertian, yaitu (a) orang saleh, orang yang beribadah dengan sungguh-sungguh dan (b) yaitu “cantrik”, yang dalam bahasa Jawa berarti seseorang yang selalu mengikuti seorang guru kemana guru itu pergi. Sehingga kata “santri” bisa dimaknai panggilan untuk seseorang yang sedang menimba ilmu pendidikan agama Islam selama kurun waktu tertentu dengan jalan menetap di sebuah pondok pesantren sehingga memiliki kompetensi yang memadai baik dalam bidang agama maupun bidang lain yang diajarkan di pondok pesantren.

Kontribusi dan kompetensi yang dimiliki santri tersebut tidak lepas dari peran pondok pesantren sebagai tempat mereka menuntut ilmu. Pondok pesantren sejak kemunculannya merupakan lembaga pendidikan yang senantiasa akan mencetak pemimpin-pemimpin yang menjadi figur saat mereka keluar dari pondok pesantren, baik menjadi ustadz, tokoh lokal, tokoh nasional, politisi, sastrawan, menteri, dan atau bahkan presiden. Pemimpin yang dilahirkan pondok pesantren adalah pemimpin yang mempunyai kredibilitas dan integritas diri dalam memegang amanah kepemimpinan.

Berdasarkan data Kementerian Agama tahun 2017 bahwa jumlah santri pondok pesantren di seluruh Indonesia, mencapai 3.962.700 yang tersebar di 25.938 pondok pesantren. Jumlah santri ini merupakan potensi yang luar biasa dan dapat menghasilkan dampak besar bagi pembangunan bangsa jika program dan kegiatan para santri dikelola dengan sistem yang baik.

Menurut Dhofier, saat ini telah terjadi perubahan paradigma dalam tubuh pesantren. Pondok pesantren berusaha mengubah masa depan pesantren, bukan hanya mampu ‘memproduksi’ kyai, da’i, ahli hadis, dan pembaca kitab kuning. Namun lebih dari itu, dengan perantara jalur pendidikan mampu menghasilkan sumber daya manusia yang berpengetahuan luas, menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan dan mampu mengintegrasikan ilmu-ilmu agama dengan ilmu umum yang menyangkut kehidupan masyarakat.

Sebagai kontribusi nyata santri dalam pembangunan bangsa, gerakan reformasi telah memunculkan sejumlah tokoh yang tidak lepas dari peran pendidikan pondok pesantren, baik langsung maupun tidak langsung. Abdurrahman Wahid, pendiri PKB sekaligus mantan Presiden RI ke-4; Amien Rais, pendiri PAN dan mantan Ketua MPR; Hidayat Nur Wahid, mantan Presiden PKS sekaligus Mantan Ketua MPR; Hasyim Muzadi, mantan Ketua PBNU; Hamzah Haz mantan Wakil Presiden RI; Nurcholis Madjid, Rektor Paramadina; dan lain-lain adalah beberapa nama tokoh dari dunia pondok pesantren yang aktif berperan dalam pembangunan dan penataan kembali bangunan kebangsaan. Hal ini tidak saja menunjukkan kualitas pendidikan pondok pesantren dalam mencetak pemimpin dan tokoh-tokoh bangsa tetapi juga membuktikan besarnya kepedulian santri terhadap problematika bangsa ini.

Pasca reformasi, kaum santri berperan bagi pembangunan negara dalam berbagai bidang. Dalam kondisi seperti ini posisi santri semakin diperhitungkan dalam interaksi riil sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Dalam kancah politik, kaum santri tidak lagi menjadi objek dari kepentingan sesaat para politisi dan partai politik, akan tetapi dinamika perpolitikan Indonesia diwarnai pula oleh politisi santri yang tidak lagi ‘malu’ dengan identitas kesantriannya. Partai-partai seperti PPP, PKB, PKS, PAN dan sebagainya adalah partai-partai politik yang berbasis massa mayoritas kaum santri.

Selain itu, partai-partai nasionalis juga diwarnai oleh politisi-politisi santri, seperti di Partai Golkar ada Tohir Wijaya, Ismail Hasan, Slamet Efendi Yusuf, Chalid Mawardi, Mujib Rochmat, dan Idrus Marham; di PDIP ada Hamka Haq dan Zuhairi Misrawi; di Partai Demokrat ada Khatibul Umam Wiranu; dan partai nasionalis lainnya seperti Gerindra dan Nasdem memunculkan tokoh dari kalangan santri yang penulis kenal, seperti H. M. Syafii, Sodik Mujahid, Efendi Choiri dan Chairul Muna. Di Kementerian ada Lukman Hakim Saifudin, Khofifah Indar Parawansa, Imam Nahrawi dan lain-lain. Ditingkat kepala daerah ada Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Barat dan Muhammad Zainul Majdi, Gubernur NTB.

Ada juga tokoh-tokoh seperti KH. Ma’ruf Amin (MUI), Sholahudin Wahid dan Jimly Ashshiddiqi (ICMI), dan Din Syamsudin, mantan Ketua PP Muhammmadiyah. Belum lagi tokoh-tokoh santri yang berkiprah di lembaga-lembaga seperti komisi negara, ormas, perguruan tinggi dan lain-lain. Mereka merupakan tokoh-tokoh santri yang memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan bangsa dan negara ini.

Dalam bidang ekonomi, saat ini telah banyak pesantren yang berhasil melakukan pemberdayaan ekonomi umat. Pondok pesantren Al-Ittifaq Bandung melakukan aktivitas ekonomi dalam bidang agrobisnis yang cukup maju bahkan menjadi model pesantren yang mandiri dan berhasil melibatkan partisipasi masyarakat. Pondok pesantren Sidogiri berhasil membentuk lembaga keuangan berbasis syariah dengan aset lebih dari 1 triliun yang berhasil mensejahterakan pesantren dan masyarakat sekitarnya, dan masih banyak pesantren lain yang memiliki kontribusi nyata dalam bidang pemberdayaan ekonomi umat.

Dalam arus perubahan sosial sekarang ini agaknya pembicaraan tentang peran pesantren dalam pemberdayaan ekonomi umat menjadi penting untuk perhitungkan. Hal itu karena sampai sekarang pesantren masih menjadi magnet sosial yang dapat menarik berbagai pihak untuk berkontribusi bahkan menumbuhkan vitalitas dan sumber inspirasi baru dalam menghadapi tantangan modern dewasa ini.

Bila dikaitkan dengan kondisi bangsa terkait maraknya aksi terorisme, korupsi, dan penyalahgunaan narkoba, maka mendorong santri untuk meningkatkan peran dalam pencegahan masalah tersebut juga menjadi satu faktor penting yang perlu dipertimbangkan. Karena jika dilihat dari karakteristik model pendidikan, santri memiliki kelebihan dibanding dengan lulusan dari sekolah umum. Disamping memiliki kompetensi sesuai bidang yang ditekuni, tetapi juga khususnya memiliki pengetahuan dan kecerdasan dibidang akhlak dan spiritual.

Kita patut mengapresiasi Presiden Jokowi dengan kebijakannya yang telah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai hari santri nasional. Ini bukti pengakuan negara terhadap keberadaan dan peran pesantren dalam sejarah perjalanan bangsa. Namun tentu tidak hanya sekedar apresiasi simbolik, tetapi harus lebih substantif dan bermakna. Perlu agenda berikutnya dalam mengoptimalkan peran santri sebagai aktor pembangunan dan perubahan bangsa ini melalui berbagai langkah dan upaya. Salahsatunya di bidang legislasi, alhamdulillah semua fraksi di DPR sudah sepakat mengajukan RUU Pesantren, dan pemerintah melalui Kementerian Agama meresponnya dengan positif.

Kini saatnya pemerintah perlu memberi ruang yang cukup, termasuk sarana dalam pengembangan diri kepada para santri dan pesantren agar menjadi aktor dalam pembangunan. Kita seharusnya tidak perlu mempertanyakan apa peran dan fungsi santri dan pondok pesantren dalam membangun bangsa ini, yang justru perlu dipertanyakan adalah apa yang telah dan perlu dilakukan bangsa ini dalam mengembangkan santri dan pondok pesantren sebagai sebuah kekayaan bangsa yang genuine. Santri berkarya, rakyat sejahtera, Indonesia jaya, selamat hari santri!